Sajadah Hati

tertunduk, merenung

tertunduk, merenung

Tunduk dalam Hati dan Fikir
Itulah Sujud yang di kehendaki
Karena hati kan selalu bergejolak
……Fikiran kan selalu membangun angan
Bila manusia mengikuti suara hati
Dia akan menjadi labil
Bila manusia mengikuti suara fikrah
Fikir akan menjadi sombong

Bukan sekedar Sujud dalam fisik
Untuk tunduk pada Allah
Tapi kalian tundukkanlah
Hati dan Fikir pada Allah Swt
Hukum syari’at hanya berfungsi
Bila manusia tunduk pada Allah Swt
Bila hati dalam Fikir terus menolak
Walau manusia di penjarakan tetap saja
Manusia akan melanggar saat terbatas

Read more »

Beginilah Cara Mengajak Tomcat Pindah ke Sawah

Tim dari Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian UGM melaksanakan uji coba pembasmian terhadap serangga Tomcat dengan cara merelokasi hama ini dari kawasan perumahan yang terletak dipinggir persawahan di kawasan Celeban, Kota Yogyakarta pada hari Selasa lalu tanggal 27 Maret 2012. Suputa ,yang merupakan koordinator tim itu mengatakan bahwa proses relokasi ini diawali dengan penangkapan Tomcat memakai lampu ultra violet (UV).

 

tomcat

tomcat

 

 

 

“Kita mau menguji efektifitas lampu-lampu itu untuk menarik perhatian Tomcat,” ujar peneliti hama tanaman dari Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan UGM tersebut.

Kata Suputa, dalam proses uji coba relokasi Tomcat yang dilakukan bersama tim Dinas Pertanian DI Yogyakarta itu, Tomcat akan ditangkap setelah mengerubuti lampu UV. Untuk menangkap sebanyak mungkin hama ini, kata dia, lampu-lampu UV dinyalakan di sekeliling areal perumahan dekat sawah di kawasan Celeban. Hama Tomcat ditangkap dengan memasukkannya ke dalam plastik.

Suputa menambahkan, tomcat-tomcat yang sudah tertangkap akan dibuang oleh tim itu ke kawasan persawahan yang jauh dari perumahan. Menurut Suputa jika metode ini efektif, cara pembasmian tomcat lewat relokasi bisa diaplikasikan di kawasan lain. “Metode ini jelas ramah lingkungan karena tanpa insektisida, jadi tomcat masih bisa membantu petani memangsa wereng,” kata Suputa.

Tim relokasi Tomcat ini terdiri dari sejumlah mahasiswa S1 dan Pascasarjana serta sejumlah peneliti hama tanaman di Fakultas Pertanian UGM. Tim ini juga didampingi oleh sejumah staf Dinas Pertanian DI Yogyakarta, Ketua Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan UGM Susanto, serta ahli entimologi dan Insektisida Serangga UGM, Edi Martono.

Sumber : Majalah Tempo

Silsilah Nyai Ageng Bagelen

Silsilah Nyai Ageng Bagelen ini saya buat berdasarkan cerita Nyai Ageng Bagelen versi Bagelen, dengan nara sumber Bapak Usaryo Cokro Husodo. Berdasarkan versi tersebut, didapat silsilah seperti gambar berikut.

Silsilah Nyai Ageng Bagelen

Silsilah Nyai Ageng Bagelen

Nyai Ageng Bagelen versi Dinas Pariwisata

Pangeran Jaka Awu-Awu Langit (JAAL) penguasa daerah Pagelen mempunyai istri bernama Rara Wetan (RW) yang lebih dikenal dengan sebutan Nyai Ageng Bagelen (NyAB). Keduanya senang sekali bertapa dan bertani, terutama menanam kedelai dan berternak sapi perah. Nyai Ageng Bagelen senang mengisi waktunya dengan menenun dipinggir sawah. Nyai Ageng Bagelen dan Pangeran Jaka Awu-Awu Langit dikaruniai 2 putri kembar. Nyai Ageng Bagelen memiliki keistimewaan bahwa payudaranya sangat panjang “kopek” sehingga ketika putrinya ingin “ngempeng”, ia tinggal menyampirkan ke belakang. Suatu ketika saat sedang asik menenun datang seekor anak lembu dan ikut menyusu di kopek Nyai Ageng Bagelen. Merasakan ada kelainan Nyai Ageng Bagelen menoleh. Betapa terkejutnya ia melihat anak lembu menyusu padanya. Nyai Ageng Bagelen marah dan memukul anak lembu itu hingga kepalanya pecah dan keluarlah sumpah bahwa anak cucu keturunannya dilarang menyembelih sapi.

Pangeran Jaka Awu-Awu Langit ingin memiliki putra laki-laki yang dapat dijadikan sebagai penggantinya kelak, maka ia menyampaikan niatnya kepada Nyai Ageng Bagelen. Nyai Ageng Bagelen mengusulkan supaya mereka berdua bersama-sama memohon kepada Dewata Agung menghadap Kanjeng Ratu Kidul (KRK). Pangeran Jaka Awu-Awu Langit dan Nyai Ageng Bagelen melaksanakan niatnya dengan bersemedi di tempat pemujaan. Setelah lama bersemedi akhirnya Kanjeng Ratu Kidul sudi hadir menemui keduanya dan mengabulkan permohonan mereka dengan syarat setiap hari malam Jumat mereka harus menyiapkan sesaji berupa bunga setaman, gecok mentah, dan jenang abang putih. Merekapun menyanggupinya. Read more »

Nyai Ageng Bagelen versi Radix Penadi

Radix Penadi

Radix Penadi

Prabu Daniswara dari Medangkamulan memiliki putra bernama Prabu Kandihawan yang menetap di tanah Koripan. Prabu Kandihawan ini memiliki lima orang putra yaitu Raden Panuhun, Raden Sendanggarbo, Raden Karungkolo, Raden Panularan, dan Raden Gatayu. Raden Panularan memiliki putra bernama Jaka Panuntun, dan Jaka Panuntun memiliki seorang putri bernama Rara Wetan. Raden Gatayu memiliki cucu bernama Jaka Awu-Awu Langit dari putranya yang bernama Adipati Kayumutu.

Roro Wetan terkenal sebagai gadis berparas cantik, sehingga banyak orang mendambakan untuk menjadikannya seorang istri. Tumenggung Wingko, penguasa daerah Wingko jatuh hati dan meminang Roro Wetan.

Tumenggung Wingko mengajukan lamaran namun ditolak olah Jaka Panuntun dengan alasan Roro Wetan masih terlalu muda untuk berumahtangga. Tumunggung Wingko tidak terima dengan penolakan dari Jaka Panuntun, maka ketika Jaka Panuntun sedang tidak di rumah, Roro Wetan diculik untuk diperistri. Joko Panuntun tidak tinggal diam melihat putrinya diculik. Pengejaran dilakukan dan terjadilah pertempuran seru. Tumenggung Wingko memenangkan peperangan ini. Mengira Joko Panuntun telah tewas, tubuhnya di lempar ke sungai Lereng dan hanyut dibawa air sungai yang sedang banjir. Read more »

Nyai Ageng Bagelen versi Oteng Suherman

Maha Prabu Sri Kandihawan atau Prabu Sowelocolo penguasa kerajaan Medangkawit atau Medangkamulan memiliki 5 orang putra yaitu: Raden Jaka Panuhun, Raden Jaka Sandanggarba, Raden Jaka Karungkala, Raden Tunggulmetung, dan Raden Jaka Petungtantara. Raden Jaka Panuhun yang ahli dalam bidang pertanian menggantikan kedudukan Maha Prabu Sri Kandihawan dan memindah ibu kota negeri ke tanah Pagelen.

Raden Jaka Panuhun memiliki putra 2 orang tetapi memiliki cacat fisik, yaitu keduanya cebol dan kerdil hanya setinggi tongkat bedil. Melihat putranya yang sedemikian Raden Jaka Panuhun merasakan kesedihan dan akhirnya ia bertapa brata memohon pada Sang Penguasa Alam. Petunjuk datang dari suara gaib yang mengutus Raden Jaka Panuhun menikahi putri Ki Buyut Somolangu, dan dengan pernikahan itu Raden Jaka Panuhun putra bernama Raden Bagus Jaka Pramana.

Sri Getayu adik Raden Jaka Panuhun yang ahli dalam keagamaan memerintah di Pamagetan. Kesalehannya dalam bidang agama membuatnya sering meninggalkan negara untuk bertapa brata. Sri Getayu dikaruniai putra bernama Raden Kayumutu. Raden Bagus Jaka Pramana setelah dewasa menggantikan kedudukan sang ayah memerintah tanah Pagelen dengan gelar Sri Panuhun II. Ia memiliki putri bernama Dyah Ayu Roro Wetan. Raden Kayumutu setelah
dewasapun menggantikan kedudukan ayahnya memerintah Pamegatan. Raden Kayumutu memiliki putra bernama Raden Jaka Awu-Awu.
Read more »

Nyai Ageng Bagelen versi Loano

Di jaman Madangkara, tersebutlah seorang raja bijaksana yang bernama Prabu Sowelocolo. Ia memiliki lima orang putra, masing-masing bernama Sri Getayu, Sendang Garbo, Sri Panuhun, Karungkolo, dan Soemodimetung.

Sri Getayu memiliki cucu dari putra Kayu Mutu bernama Awu-Awu Langit. Ia berkedudukan di Awu-Awu (Ngombol). Sri Panuhun memiliki seorang cucu, anak dari Joko Panuhun atau Joko Pramono yang bernama Roro Dilah atau Roro Wetan yang kemudian dikenal dengan sebutan Nyai Bagelen. Roro Dilah juga dapat disebut dengan Roro Wetan karena kedudukannya di daerah timur. Setelah dewasa, Roro Dilah menikah dengan Raden Awu-Awu Langit cucu dari Prabu Sri Getayu dan menetap di Hargopuro atau Hargorojo.

Dari pernikahan tersebut, Roro Dilah atau Roro Wetan dan Pangeran Awu-Awu Langit dianugrahi seorang putra bernama Bagus Gentho. Read more »

Nyai Ageng Bagelen versi Bagelen

Pesarean Bagelen

Pesarean Bagelen

Pada jaman Mataram I, tersebutlah seorang raja yang bijaksana yang bernama Prabu Sowelocolo. Ia memiliki enam orang putra, masing-masing bernama Sri Moho Punggung, Sendang Garbo, Sarungkolo, Tunggul Ametung, Sri Getayu, dan Sri Panuhun.

Sri Panuhun memiliki seorang cucu, anak dari Joko Panuhun atau Joko Pramono yang bernama Roro Dilah atau Roro Wetan yang kemudian dikenal dengan sebutan Nyai Bagelen. Roro Dilah juga dapat disebut dengan Roro Wetan karena kedudukannya di daerah timur. Sri Getayu memiliki cucu dari putra Kayu Mutu bernama Awu-Awu Langit. Ia berkedudukan di Awu-Awu (Ngombol). Setelah dewasa, Roro Dilah menikah dengan Raden Awu-Awu Langit dan menetap di Hargopuro atau Hargorojo.

Dari pernikahan tersebut, Roro Dilah atau Roro Wetan dan Pangeran Awu-Awu Langit dianugrahi tiga orang putra, Bagus Gentha, Roro Pitrang dan Roro Taker.

Kesibukan Roro Wetan dan Awu-Awu Langit adalah bertani padi, ketan, dan kedelai, beternak sapi, ayam dan juga menenun. Konon karena tanahnya cocok untuk ditanami kedelai dan hasilnya melimpah maka wilayah tersebut dikenal dengan nama Medang Gelih atau Padelen dan sekarang disebut dengan Bagelen. Read more »

Nyai Ageng Bagelen versi Hargorojo

Gapura Pesarean Nyai Ageng Bagelen

Gapura Pesarean Nyai Ageng Bagelen

Pada jaman Medangkamulan, tersebutlah seorang raja yang bijaksana yang bernama Prabu Daniswara yang memiliki putra bernama Prabu Kandiawan yang menetap di Koripan. Prabu Kandiawan ini memiliki lima orang putra yaitu Raden Panuhun, Raden Sendanggarbo, Raden Karungkolo, Raden Patularang, dan Raden Sri Getayu.

Raden Patularang memiliki putra bernama Djaka Panuntun, dan Djaka Panuntun memiliki seorang putri bernama Rara Wetan. Sri Getayu memiliki cucu bernama awu-awu Langit dari putranya yang bernama Adipati Kayu Mutu. Setelah dewasa, Roro Dilah menikah dengan Raden Awu-Awu Langit dan menetap di Hargopuro atau Hargorojo.

Dari pernikahan tersebut, Roro Dilah atau Roro Wetan dan Pangeran Awu-Awu Langit dianugrahi tiga orang putra, Bagus Gentha, Roro Pitrang dan Roro Taker. Kesibukan Roro Wetan dan Awu-Awu Langit yang lebih dikenal dengan sebutan Nyai Ageng Bagelen dan Kyai Ageng Bagelen adalah bertani padi, ketan, dan kedelai, beternak sapi, ayam dan juga menenun.

Nyai Ageng Bagelen sosoknya tinggi besar dengan rambut terurai dan senang memakai kemben lurik. Beliau memiliki keistimewaan berupa kemampuan spiritual karena seringnya melakukan tapa brata sehingga memiliki daya linuih yang lebih sakti dibandingkan dengan kyai ageng Bagelen, dan juga payudaranya yang sangat panjang “kopek” sehingga ketika putra-putrinya ingin “ngempeng”, ia tinggal menyampirkan ke belakang. Read more »

Mitos Nyai Ageng Bagelen

Gapura Pesarean Nyai Ageng Bagelen

Gapura Pesarean Nyai Ageng Bagelen

Terima kasih kepada saudari Urita Wit Dayanti yang telah berkenan mengijinkan saya untuk memposting Mitos cerita Nyai Ageng Bagelen. Nuwun nggih mbak. :)

Mitos cerita Nyai Ageng Bagelen yang terlahir dari sebuah cerita rakyat melahirkan sebuah mitos cerita yang masih diyakini dan dihormati oleh masyarakatnya, terutama masyarakat dalam lingkup daerah yang sifatnya masih tradisional. Cerita rakyat Nyai Ageng Bagelen merupakan sebuah cerita pada jaman Mataram Hindu Jawa yang berkembang secara lisan. Mitos ini berkembang seiring dengan tuntutan jaman yang terus berubah sehingga muncul berbagai versi mitos sebagai bentuk kepercayaan terhadap roh-roh nenek moyang yang dianggap sakti seperti halnya dewa-dewa atau pun pahlawan jaman dahulu yang mengandung penafsiran tentang asal usul alam, manusia, dan bangsa yang diungkapkan secara gaib, serta masih diyakini dan dihormati sekaligus menjadi salah satu unsur dasar religi dalam kehidupan sosial, budaya dan tingkah laku manusia. Read more »

Bad Behavior has blocked 210 access attempts in the last 7 days.